TEMBOK GAIB

Penulis

Kang KS
SPGN Cirebon

Kata Kunci:

sastra, cerpen, kisah

Sinopsis

Kumpulan cerpen Tembok Gaib menghadirkan potret kehidupan masyarakat yang tampak biasa, namun sesungguhnya dibatasi oleh sekat-sekat tak kasatmata: rasa takut, prasangka, kekuasaan, dan kebisuan sosial. Setiap cerpen mengisahkan tokoh-tokoh yang hidup dalam tekanan batin dan sosial—guru, pelajar, warga desa, hingga orang-orang pinggiran—yang berhadapan dengan tembok simbolik yang menghalangi kebebasan berpikir, bersuara, dan menentukan nasib. Tembok itu disebut “gaib” karena tidak pernah benar-benar terlihat, tetapi kehadirannya dirasakan kuat dalam keseharian tokoh-tokohnya.

Melalui gaya penceritaan yang realis-magis dan metaforis, cerpen-cerpen dalam buku ini menyingkap konflik antara nurani dan kekuasaan, antara harapan dan ketakutan, serta antara kejujuran dan kompromi. Ruang-ruang sosial seperti sekolah, kampung, rumah ibadah, dan institusi negara menjadi latar yang mempertegas bagaimana tembok-tembok tersebut dibangun dan diwariskan secara diam-diam. Bahasa yang puitis namun tajam digunakan untuk menyentuh lapisan emosi pembaca, sekaligus mengajak merenungi luka-luka sosial yang kerap dinormalisasi.

Pada akhirnya, Tembok Gaib bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan sebuah refleksi kritis tentang manusia yang terperangkap dalam sistem dan budaya yang mengekang. Buku ini mengajak pembaca untuk menyadari keberadaan tembok-tembok gaib dalam kehidupan sendiri, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk mempertanyakan, meruntuhkan, atau setidaknya menamai tembok-tembok itu. Dengan pesan moral yang kuat dan relevan, Tembok Gaib menegaskan peran sastra sebagai ruang perlawanan yang sunyi namun bermakna.

Bab

  • Karya yang Menghibur dan Mendidik
  • Pengantar Cerita
  • Daftar Isi
  • Tembok Gaib – 1
  • Tembok Gaib – 2
  • Tembok Gaib – 3
  • Tembok Gaib – 4
  • Tembok Gaib – 4 18 Masjid yang Terkucilkan
  • Cinta Terlarang
  • Dari Balik Jendela Asrama
  • Sarapan Enak Menjadi Onak
  • Tidur
  • Perempuan dengan Ular Kobra di Mulutnya
  • Cerita Kang Syukir
  • Desas-Desus
  • Teman yang Hilang
  • Angin Duduk
  • Sosok Penulis

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Biografi Penulis

Kang KS, SPGN Cirebon

Dr.H. Kusen, S.Pd., M.Pd.

Sosok sederhana namun selalu tampak tampil sahaja ini biasa akrab disapa Pa’ Kusen oleh  civitas IC. Nama yang pendek, sederhana, dan terkesan ndeso. Benar saja kalau nama tersebut terdengar ndeso, karena beliau terlahir di sebuah desa kecil , di Kabupaten Cirebon. Pria yang terlahir dari keluarga petani ini, sejak kecil selalu tampil menonjol dibanding teman-teman sepermainan atau teman sekelasnya. Makanya, sejak SD bahkan sampai di perguruan tinggi beliau selalu tampil sebagai ketua kelas. Pengalamannya hidup di desa dan pernah menjadi penggembala, rupanya telah membekali hidupnya dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kepemimpinan alamiahnya.

Pendidikannya dimulai dengan bersekolah di SDN Sendang. Selepas SD beliau melanjutkan ke SLTP di kota kecamatannya, yaitu SMPN Cirebon Selatan. Ia sempat bingung ketika harus menentukan pendidikan selanjutnya, selepas SLTP. Sempat terpikir olehnya untuk masuk SPK (Sekolah Perawat Kesehatan),  SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas), atau SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Ketiga pilihan itu muncul dengan pertimbangan agar selepas SLTA bisa langsung kerja dan dapat segera membantu orang tuanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk SPG, yakni di SPGN Cirebon. Masuk atau diterima di sekolah negeri, bagi masyarakat kala itu  merupakan prestasi tersendiri. Alhamdulillah bagi Kusen muda, masuk ke sekolah negeri bukan merupakan kesulitan karena NEM (nilai Ebtanas Murni) yang diraihnya cukup tinggi dan itu mempermudah jalannya untuk masuk ke sekolah negeri.

Masa-masa sekolah di SPG baginya meninggalkan kesan istimewa. Selain karena sejak muda beliau menjadi terbiasa dipanggil “Pak Guru”, juga karena hubungan pertemanan dan persaudaraan kala itu dirasa sangat erat dan terasa hingga sekarang. Wajar saja kalau masa-masa SPG menjadi kenangan istimewa, karena yang sekarang menjadi istri Pa Kusen adalah dulu adik kelasnya sewaktu di SPG, (cinta lokasi nih Pa! , red).

Selepas SPG, beliau melanjutkan studinya di IKIP Negeri Jakarta. Di IKIP Jakarta, beliau memilih program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ketika ditanya mengapa memilih program Bahasa dan Sastra Indonesia, beliau menjawab karena sangat menyukai pelajaran ini. Sejak SLTP dulu, beliau sering diutus mewakili sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat, pidato, atau membaca puisi di tingkat kecamatan bahkan kabupaten. Di ijazah, wajar saja kalau nilai bahasa Indonesianya 9.

Kecintaannya pada dunia pendidikan dan bahasa Indonesia mengantarkannya pada profesinya yang sekarang, yakni menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjadi guru telah beliau tekuni sejak usia 17 tahun (mengajar di SD). Ketika kuliah di IKIP baru semester III, beliau  sudah memberanikan diri mengajar di SMP. Menjelang lulus, beliau mengajar di MA dan STM/SMK di Jakarta. Bagitu lulus IKIP tahun 1995, beliau menjadi guru di Yayasan Pembangunan Jaya (Bintaro Jaya), Jakarta. Belum genap satu tahun mengajar di Pembangunan Jaya, beliau kemudian mengikuti seleksi guru  yang diselenggarakan oleh BPPT. Setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat dan memakan waktu yang sangat lama,  beliau diterima menjadi guru di Magnet School.

Magnet School yang beliau kenal kala itu adalah sebuah sekolah unggulan yang dirintis oleh orang unggul (Pa Habibi), untuk orang-orang unggul (putra-putri terseleksi dari berbagai daerah), dan dididik oleh guru-guru yang unggul (terseleksi dari 13.000 pelamar). Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau ada kebanggaan tersendiri pada diri beliau bisa bergabung dengan Magnet School. Keunggulan itu kian tampak seiring berjalannya waktu. Magnet School yang kemudian beganti nama menjadi Insan Cendekia menunjukkan kemampuannya sebagai sekolah dengan prestasi yang gemilang.

Di tengah kesibukannya mengajar di MAN IC, pada tahun 2011 beliau terus memperdalam ilmunya dengan melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta  untuk mendalami program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Pada tahun 2020 beliau menyelasaikan studi S-3 di UNJ (universitas Negeri Jakarta) atau yang dulu dikenal sebagai IKIP Jakarta dengan spesialisasi program Pendidikan Bahasa atau disebut juga dengan program Linguistik Terapan.

Demi mengamalkan ilmu yang diperolehnya selama S-3, di sela-sela waktu luang pada sore dan malam hari, sejak 2023 beliau mengabdikan diri sebagai dosen di Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Pamulang. Di Prodi Sastra, beliau mengampu beebrapa mata kuliah, antara lain Antrpologi Sastra, Sastra Poskolonial, Kajian Budaya Populer, Sastra Lisan, dan lain-lain.

Oh ya, Pak Kusen sudah dikaruniai dua orang  anak dari pernikahannya (tahun 1995) dengan Aan Andansari, istri yang dicintainya sejak SPG dulu. Anak yang pertama, prempuan, bernama Zulfa Errahmah Akhadiah. Anak yang kedua, laki-laki, bernama Fatih Ahmad Fauzan. Kecintaan beliau kepada keluarganya tidak diragukan lagi. Dalam banyak kesempatan beliau selalu tampil lengkap bersama keluarga.

Referensi

TEMBOK GAIB

Diterbitkan

16 Januari 2026

Detail format terbitan yang tersedia: preview

preview

ISBN-13 (15)

978-634-278-063-3

Dimensi Fisik