TEOLOGI PENDERITAAN

Penulis

Maleachi Riwu
STAK DIASPORA Wamena

Kata Kunci:

teologi, penderitaan

Sinopsis

Fakta bahwa semua orang hidup dalam sebuah dunia yang penuh liku-liku penderitaan merupakan hasil refleksi dari pengalaman hidup semua orang yang berkancah di dunia ini.

Berbagai penderitaan dialami oleh manusia, baik karena alasan fisik seperti bencana alam, kecacatan fisik, sakit, dipenjara, didera, dipukul, bahkan dibunuh hingga mengalami kematian; maupun karena alasan moral seperti kekecewaan dalam hidup dan hilangnya seorang yang dicintai (ammourtte–Belanda). Selain itu, ada pula penderitaan karena alasan rohani, seperti tidak mau mengampuni kesalahan sesama dan kegersangan sukacita di dalam Tuhan. Berbagai jenis penderitaan telah terbentang sejak kejatuhan manusia hingga sekarang ini. Ribuan tahun perjalanan hidup manusia telah melintasi gelombang-gelombang penderitaan yang mencekam, menyakitkan, dan bahkan mengguncangkan iman orang Kristen.

Nampaknya arus gelombang penderitaan ini tidak ada seorang pun yang mampu menghilangkannya. Oleh karena itu, penderitaan telah menjadi pertanyaan besar sepanjang sejarah hidup manusia di bumi ini dan menjadi wacana hangat dalam arena perdebatan para teolog. Sebagian mencoba menjawabnya dari perspektif sikap hati positif dengan mengatakan bahwa karena penderitaan merupakan fakta, maka semua orang dituntut untuk menghadapinya dengan sikap hati yang positif, sebab fakta hanya bisa direstorasi oleh sikap hati positif dan bukan dengan cara menghindar atau melarikan diri. Sementara itu, mereka yang melihat dari perspektif vitalitas mengatakan bahwa penderitaan dialami manusia karena kurangnya vitalitas. Salah satu tokoh yang gigih mempertahankan konsep ini adalah Nietzsche, yang menyatakan bahwa konsep yang memberi kewajaran atau keluasaan bagi penderitaan untuk menguasai dunia, termasuk hidup manusia, harus dibuang dari ruang teologi penderitaan dalam perspektif manusia. Menurutnya, segala sesuatu yang telah terjadi akan terus terjadi dan berulang-ulang selama-lamanya sebagai siklus kekal. Dengan demikian, penderitaan menurut Nietzsche adalah kekurangan vitalitas; apa yang vital dan memiliki intensitas tidak menderita, sehingga dapat hidup terus dan ikut mengembangkan kehidupan alam semesta, sebab sifat kewajiban dan kebaikan tidak harus berpusat pada kultus penderitaan. Konsep Nietzsche ini didasarkan pada gagasannya tentang “heterotopia”, yaitu dunia tanpa titik pusat. Lalu, apakah penyebab penderitaan itu ada, dan mengapa penderitaan tidak berhenti setelah kita beriman kepada Yesus Kristus?

Melalui buku ini, kita akan melihat apa sesungguhnya penderitaan itu dan apa fungsi positif pengalaman penderitaan bagi pembentukan karakter kita.

Bab

  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • PASAL 1 PENDAHULUAN
  • PASAL 2 MENGAPA ADA PENDERITAAN?
  • PASAL 3 MENGAPA HARUS PENDERITAAN ?
  • PASAL 4 PENDERITAAN KRISTEN
  • PASAL 5 PENDERITAAN DAN KONSEP
  • PASAL 6 MAKSUD PENDERITAAN
  • PASAL 7 REAKSI PARA TOKOH TERHADAP PENDERITAAN
  • PASAL 8 PENDERITAAN DAN WAKTU
  • PASAL 9 ANALISA AYAT-AYAT PENDERITAAN TIAP KITAB
  • PASAL 10 TANGGAPAN TERHADAP PENDERITAAN
  • PROFIL PENULIS .

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Biografi Penulis

Maleachi Riwu, STAK DIASPORA Wamena

Maleachi Riwu 
Lahir: Sabu Lobohede-Ntt, 21 Agustus 1980, Memiliki Seorang Istri yang cakap dan empat orang anak (miracle, believe, blessing & meteor gad). Dari tahun 2007-2018 mengajar sebagai Dosen di STAK DIASPORA Wamena dan beberapa stt. Pada tahun 2018-sekarang sebagai Ketua STAK DIASPORA Wamena. 

Referensi

TEOLOGI PENDERITAAN

Unduhan

Diterbitkan

17 Desember 2025

Detail monograf ini

ISBN-13 (15)

978-623-5389-06-6

Dimensi Fisik