FANS POLITIK, BUKAN PEMILIH

Authors

Suwandi Sumartias
Universitas Padjadjaran
Garry Brumadyadisty
Siska Armawati Sufa
Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Keywords:

POLITIK, POLITIK DIGITAL, SOSIAL MEDIA

Synopsis

Buku ini menelusuri transformasi politik Indonesia di era digital, ketika batas antara pemilih dan penggemar kian kabur. Politik tidak lagi sekadar ruang rasional untuk menilai program dan kebijakan, tetapi telah berubah menjadi panggung besar tempat tokoh-tokoh tampil sebagai idola dan masyarakat bertindak layaknya fandom. Fenomena “fans politik” lahir dari kombinasi emosi, algoritma media sosial, dan budaya partisipatif yang membuat politik terasa seperti konser K-pop yang penuh simbol, slogan, dan loyalitas afektif.

Para penulis mengurai bagaimana logika rasional pemilih yang dijelaskan dalam Rational Choice Theory kini tersaingi oleh Affective Intelligence Theory yang menempatkan emosi sebagai penggerak utama perilaku politik. Dalam konteks ini, dukungan terhadap figur seperti Joko Widodo, Prabowo Subianto, atau Anies Baswedan lebih banyak dimotivasi oleh persona dan citra ketimbang visi kebijakan. Media sosial berperan besar membentuk mitologi politik, di mana citra sederhana, humor, dan gestur simbolik lebih efektif daripada argumen rasional.

Dengan menggunakan pendekatan interdisipliner, menggabungkan teori komunikasi politik, semiotika Roland Barthes, Social Identity Theory, dan konsep mediatization of politics dari Jesper Strömbäck, buku ini menunjukkan bagaimana tanda, warna, dan narasi visual bekerja menciptakan identitas kolektif. Politik kemudian menjadi budaya populer, dengan relawan bertransformasi menjadi fangroup, menciptakan konten, meme, dan merchandise sebagai bentuk fan labor yang memperkuat emosi dan loyalitas terhadap kandidat.

Buku ini juga menyoroti munculnya affective economy dalam politik: emosi menjadi modal sosial dan ekonomi baru. Donasi, merchandise, hingga viralitas di media sosial bukan sekadar ekspresi dukungan, tetapi bagian dari sirkulasi rasa cinta, bangga, dan benci yang membentuk identitas kelompok. Para penulis memperingatkan bahwa meski politik afektif membuka ruang partisipasi baru, ia juga menimbulkan risiko polarisasi dan kehilangan refleksi rasional.

Melalui analisis tajam dan gaya naratif yang reflektif, Fans Politik, Bukan Pemilih mengajak pembaca memahami wajah baru demokrasi Indonesia: demokrasi yang penuh gairah, estetika, dan kedekatan digital—namun juga rapuh oleh logika algoritma dan euforia fandom. Buku ini menantang pembaca untuk bertanya: apakah kita masih menjadi warga negara yang berpikir, atau hanya penonton setia dalam konser besar bernama demokrasi?

Chapters

  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB 1 PONDASI POLITIK DI ERA FANDOM
  • BAB 2 ANATOMI FANS POLITIK: Bahasa, Simbol dan Identitas
  • BAB 3 PERTARUNGAN DUNIA DIGITAL: Meme, Hashtag, dan Perang Konten
  • BAB 4 RISIKO DAN KONSEKUENSI: Dari Fans ke Fanatisme
  • BAB 5 MEMBACA ULANG DEMOKRASI DI ERA FANDOM: Apa Salahnya Jadi Fans?
  • REFERENSI
  • PROFIL PENULIS
  • BIODATA KATA PENGANTAR

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

Suwandi Sumartias, Universitas Padjadjaran

Prof. Dr. Drs. Suwandi Sumartias, M.Si. Guru Besar Komunikasi Politik dan Hubungan Industrial, yang telah mengabdi lebih 35 tahun di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penulis, lahir di Garut, 14 Juli 1962. Selain sebagai pengajar (S1,S2 dan S3) dan peneliti bidang komunikasi politk, hubungan industrial dan humas politik, penulis juga aktif sebagai Asesor Komunikasi dan Humas LAMSPAK dan BAN PT sejak tahun 2014. Penulis  aktif juga di Organisasi ASPIKOM; ISKI dan Perhumas serta Asosiasi Karyawan Pendidikan Nasional sebagai Ketua Umum, organisasi ini berafiliasi ke ILO (international  Labor Organization  dan WOW ( World of Wokers Asia). Aktif juga  sebagai penulis Opini di SK Pikiran Rakyat dan Kompas.  Antara lain, artikelnya tentang: Perang Citra Dalam Pilpres II, Pikiran Rakyat,  September 2004; Pembangunan yang Bernurani, Pikiran Rakyat, 4 Januari 2005; Pilkada Langsung dan Teori Konflik, Pikiran Rakyat, 16 September  2005; Figur Kepemimpinan Ki Sunda, Kompas, Juli 2006; Ironi Demokratisasi Kampus, Opini, Kompas Jabar, 31 Agustus 2006; Kuantifikasi dan Retorika Kemiskinan, Opini, Kompas Jabar, 12 Oktober 2006; Psikografis Urang Sunda, Opini,  Kompas Jabar, 4 November 2006; Potret Buran Jawa Barat, Opini, Kompas Jabar,  20 November 2006;  Merekonstruksi Praksis Politik, Opini, Kompas Jabar, 14 April 2008;  Prototipe Korupsi,  Kompas Jabar, 3 Juni 2008; Pragmatisasi Pendidikan,  Opini, Pikiran Rakyat, 4 Juni 2008; Politik Pencitraan Caleg, Opini Pikiran Rakyat, 17 Februari 2009; Korupsi dan Bom Waktu Perlawanan Rakyat, Pikiran Rakyat, 7 Maret 2009; Koalisi versus BLT, Kompas Jabar  7 April 2009; Memaknai Gerakan Buruh, Pikiran Rakyat, 6 Mei 2009; Dialektika Ideologi, Pikiran Rakyat 8 Juni 2009, dan lain-lain. Alamat Rumah,  Jl. Sedap Malam V No. 25 Bumi Rancaekek Kencana Bandung 40394. 

Email: [email protected]

Garry Brumadyadisty

Garry Brumadyadisty, S.S., M.M., menjalani peran sebagai public speaker, penulis, peneliti independen, dan entrepreneur. Ia menekuni irisan komunikasi, manajemen, dan teknologi pemasaran. Ia meraih gelar Magister Manajemen dengan konsentrasi Human Resource Management dan Marketing Relations. Melalui tesisnya, ia menguji efektivitas social media marketing, character branding, dan customer engagement dalam membentuk keputusan pembelian.

Ia menyusun kajian tersebut dengan kerangka Elaboration Likelihood Model dan Theory of Planned Behavior, lalu menerapkan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis. Minat risetnya mencakup linguistics, communication technology, marketing technology, dan management. Publikasinya turut menguatkan kajian strategi public relations, audit komunikasi pada program digital, serta analisis komunikasi bermediasi komputer di media sosial. Ia menerbitkan buku perdana berjudul “Fans Politik, Bukan Pemilih” yang berangkat dari pengamatan atas perubahan partisipasi politik di Indonesia yang kian menyerupai kultur fandom. Ia menilai Pemilu 2024 memperlihatkan pola dukungan politik yang sering tampil seperti dukungan kepada figur hiburan. Publik kerap menambatkan loyalitas pada persona, simbol, dan narasi yang dibangun lewat konten digital, lalu mengabaikan evaluasi rasional atas program, rekam jejak, serta konsekuensi kebijakan. Ia melihat media sosial mempercepat gejala ini karena algoritma cenderung menguatkan keterikatan emosional, memelihara polarisasi, dan memberi insentif pada komunikasi politik yang performatif serta sensasional. Dengan basis kepakarannya, ia memetakan bagaimana teknik pemasaran seperti penciptaan identitas merek, pembentukan komunitas pendukung, dan pengelolaan interaksi menjelaskan mengapa sebagian publik lebih mudah menjadi “fans” daripada “pemilih” yang kritis.

Garry dapat dihubungi melalui

e-mail [email protected]

dan Instagram @iamrgarry.

Siska Armawati Sufa, Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Dr. Siska Armawati Sufa, S.Sos., M.I.Kom., merupakan seorang Lecturer dengan kepakaran di bidang Public Speaking, Corporate Communication, Strategic Communication, dan Big Data Analysis yang bekerja pada Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo Surabaya, dan salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN) pada Program Doktor Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung sejak September 2019 hingga Agustus 2025. Penulis telah menyelesaikan disertasinya berjudul  ANALYSIS OF ONLINE PROSTITUTION COMMUNICATION NETWORKS ON SOCIAL MEDIA VIA THE HASHTAG #OPENBO IN THE X APPLICATION, mengawali karirnya sebagai Public Relations Officer di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya sejak Februari 2010 hingga Desember 2013, setelah itu Penulis mulai menekuni passion-nya sebagai instruktur dan pengajar di bidang: Public Relations, Public Speaking, Komunikasi Bisnis, dan Entrepreneurship di berbagai instansi pemerintah maupun swasta, salah satunya adalah PROBEST Broadcasting School Surabaya. Penulis mengawali karirnya sebagai dosen di Universitas Dr. Soetomo Surabaya sejak Nopember 2014 hingga saat ini, dan sempat menjabat sebagai Kepala Pusat Karir & Tracer Study mulai tahun 2016 hingga 2019.

Penulis juga aktif sebagai narasumber dalam program Digital Talent Scholarship dan Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI (sekarang: Komdigi), serta Pelatihan Prakerja yang diselenggarakan oleh Kemnaker RI. Penulis adalah asesor kompetensi pada skema Public Relations, dan Digital Marketing pada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Dr. Soetomo Surabaya, dan skema Financing pada Lembaga Sertifikasi Profesi Pembiayaan Indonesia (LSPPI). Penulis juga aktif melakukan penelitian dengan lingkup bidang keilmuan Social Network Analysis, Public Relations, dan Digital Marketing, dan melaksanakan pengabdian masyarakat sesuai bidang keilmuan dengan pendanaan mandiri ataupun pendanaan hibah dari instansi pemerintah maupun swasta. Penulis dapat dihubungi melalui

e-mail: [email protected],

dan instagram: @iammrssas.

References

Abidin, C. (2016). Visibility Labour: Engaging With Influencers’ Fashion Brands and #OOTD Advertorial Campaigns on Instagram. Media International Australia, 161(1), 86–100. https://doi.org/10.1177/1329878x16665177

Ahmed, S. (2004). The Cultural Politics of Emotion. The Cultural Politics of Emotion. https://doi.org/10.4324/9780203700372

Aldino, A. P. T. (2024). pemilu-2024-TikTok-dan-partisipasi-semu. Detik News.

Aytaç, M. B., & Akın, E. (2020). Hatzfeld Syndrome: Narcissistic Postpurchase State of Mind. Canadian Journal of Administrative Sciences / Revue Canadienne Des Sciences De L Administration, 38(4), 369–381. https://doi.org/10.1002/cjas.1597

Banet-Weiser, S. (2012). AuthenticTM: The politics of ambivalence in a brand culture. New York University Press., 1–265.

BBC News. (2022). Leni Robredo: The woman leading the Philippines’ “pink revolution.” BBC News. https://www.bbc.com/news/world-asia-61318519

Brändle, V. K. (2022). Claiming Authority Over ‘Truths’ and ‘Facts’: Information Risk Campaigns to Prevent Irregular Migration. 151–176. https://doi.org/10.1007/978-3-031-13694-8_8

Csp. (2022). Kepercayaan Publik Menurun di Negara Demokrasi Maju - Internasional - AnalisaDaily.

Dalton, R. J. (2008). Citizenship Norms and the Expansion of Political Participation. Political Studies, 56(1), 76–98. https://doi.org/10.1111/j.1467-9248.2007.00718.x

Debord, G. (1967). The society of the spectacle (Translated and annotated by Ken Knabb ). In Ken Knabb (Ed.), Bureau of Public Secrets (English Ed). BUREAU OF PUBLIC SECRETS.

Deller, R. A., & Murphy, K. R. (2019). ‘Zoella Hasn’t Really Written a Book, She’s Written a Cheque’: Mainstream Media Representations of YouTube Celebrities. European Journal of Cultural Studies, 23(1), 112–132. https://doi.org/10.1177/1367549419861638

Edelman Group. (2023). 2023 Edelman Trust Barometer. Special Report:Health and Trust, Second, 1–63. https://www.edelman.com.es/2023-edelman-trust-barometer

Edelman, R. (2023). Navigating a Polarized World. Daniel J. Edelman Holdings, Inc. https://www.edelman.com/trust/2023/Trust-Barometer/navigating-a-polarized-world

Ersi, C. (2023). A Regulation Theory Perspective on the Relationship Between Playbour and Internet Social Media Platform s. Communications in Humanities Research, 8(1), 83–90. https://doi.org/10.54254/2753-7064/8/20230973

Evi, A. A., & Ari, S. W. (2022). The Post-Truth Phenomenon Infiltrating the Us Political System, Media, and Populace: The Critical Thinking Analysis About Donald Trump’s Political Leadership. Journal of Liberty and International Affairs Institute for Research and European Studies - Bitola, 8(2), 87–107. https://doi.org/10.47305/jlia2282087a

Ewing, J. A. (2017). Hollow Ecology: Ecological Modernization Theory and the Death of Nature. Journal of World-Systems Research, 23(1), 126–155. https://doi.org/10.5195/jwsr.2017.611

Faturahman, A. A. (2025). Mengenal Crowdfunding di Demo Pati: Kala Rakyat Bantu Rakyat | tempo.co. Tempo. https://www.tempo.co/politik/mengenal-crowdfunding-di-demo-pati-kala-rakyat-bantu-rakyat-2058270

Fransen, B. (2022). How Gen Z is Setting the Pace for Climate Action. Ecomatcher.Com. https://www.ecomatcher.com/how-gen-z-is-setting-the-pace-for-climate-action/

Habermas, J. (1991). The Structural Transformation. In MIT Press (Vol. 68).

Habermas, J. (2019). The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society. In Beacon Press. Beacon Press Boston.

Habermas, J. (2022). Reflections and Hypotheses on a Further Structural Transformation of the Political Public Sphere. Theory Culture & Society. https://doi.org/10.1177/02632764221112341

Hollingsworth, J. (2020). Why K-pop fans being credited with disrupting Trump’s rally shouldn’t be a surprise | CNN. CNN. https://edition.cnn.com/2020/06/22/asia/K-pop-fandom-activism-intl-hnk/index.html

Höök, K. (2008). Affective loop experiences - What are they? Lecture Notes in Computer Science (Including Subseries Lecture Notes in Artificial Intelligence and Lecture Notes in Bioinformatics), 5033 LNCS(February), 1–12. https://doi.org/10.1007/978-3-540-68504-3_1

Jo, H. (2021). [Election 2022] AI spokesman, avatars enter election campaigns. The Korea Herald. http://www.koreaherald.com/view.php?ud=20211208000709

Karl Marx. (1867). Capital: A Critique of Political Economy Volume I. In Progress Publishers: Vol. I (English Ed, Issue 2008). Progress Publishers.

Katadata Insight Center. (2023). Politik Di Mata Anak Muda. Katdata Insight Center, 1–49. https://cdn1.katadata.co.id/media/files/2023/11/15/2023_11_15-13_43_11_f6659cffe5beb220f147547a901e78a1.pdf

Kemp, S. (2023). Digital 2023_ Indonesia — DataReportal – Global Digital Insights. Data Reportal. https://datareportal.com/reports/digital-2023-indonesia

Kurniawan, S. (2023). Relawan Perubahan luncurkan aplikasi dukung Anies untuk Pilpres 2024. Elshinta. https://elshinta.com/news/297968/2023/03/29/relawan-perubahan-luncurkan-aplikasi-dukung-anies-untuk-pilpres-2024?utm_source=chatgpt.com

Levenson, Z., & Seim, J. (2024). Cracking the Iron Ceiling: On Ethnography as Theory. Critical Sociology, 50(6), 991–1004. https://doi.org/10.1177/08969205241263546

Marland, A. (2013). What is a political brand?: Justin Trudeau and the theory of political branding. In Canadian Communication Association and the Canadian Political Science Association. http://www.cpsa-acsp.ca/papers-2013/Marland.pdf%0Ahttps://www.jbe-Platform .com/content/journals/10.1075/jlp.7.3.01mit

Maurissen, L., & Claes, E. (2023). Entender El Compromiso Político en Línea Entre Los Jóvenes Adolescentes De 21 Países. Pel, 60(2). https://doi.org/10.7764/pel.60.2.2023.7

McIntyre, L. (2023). On Disinformation: How to Fight for Truth and Protect Democracy. In The MIT Press (Vol. 11, Issue 3). The MIT Press. https://doi.org/10.1177/1748895811401979

Montanaro, D. (2016). Hillary Clinton Said “Half” Of Trump Supporters Are In A “Basket Of Deplorables” _ NPR. National Public Radio (NPR). https://www.npr.org/2016/09/10/493427601/hillary-clintons-basket-of-deplorables-in-full-context-of-this-ugly-campaign

Moscovici, S., & Zavalloni, M. (1969). The group as a polarizer of attitudes. Journal of Personality and Social Psychology, 12, 125–135. https://doi.org/10.1037/h0027568

Neiwert, D. (2017). Alt-America: The Rise of the Radical Right in the Age of Trump (First Edit). Verso.

Pariser, E. (2011). The Filter Buble: What The Internet is Hiding From you. 2, 50–60. https://www.academia.edu/34426834/The_Filter_Bubble_Eli_Pariser

Rubenstein, K., & Lenagh-Maguire, N. (2014). Thick and Thin Citizenship as Measures of Australian Democracy. https://doi.org/10.22459/ld.12.2014.03

Senft, T. M. (2013). Microcelebrity and the Branded Self. A Companion to New Media Dynamics, 346–354. https://doi.org/10.1002/9781118321607.ch22

Sharma, K., Ferrara, E., & Liu, Y. (2022). Characterizing Online Engagement with Disinformation and Conspiracies in the 2020 U.S. Presidential Election. Proceedings of the International AAAI Conference on Web and Social Media, 16, 908–919. https://doi.org/10.1609/icwsm.v16i1.19345

Shearer, E., & Mitchell, A. (2024). News Use Across Social Media Platform s in 2020 | Pew Research Center. Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/journalism/2021/01/12/news-use-across-social-media-Platform s-in-2020/

Snapes, L. (2019). Kanye West pledges to perform in Maga hat, and reaffirms presidential ambitions. The Guardian. https://www.theguardian.com/music/2019/jan/02/kanye-west-pledges-to-perform-in-maga-hat-reaffirms-presidential-ambitions

Sugiarto, E. C. (2018). Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. https://setkab.go.id/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital/

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. https://api.semanticscholar.org/CorpusID:141114011

Utami Firselly Andhyta, L. A. (2023). Bijak Memilih. Bijak Memilih. https://www.bijakmemilih.id/profil-kandidat

Van Der MEER, T. G. L. A., HAMELEERS, M., & KROON, A. C. (2020). Faces of Biased Selectivity: A Latent Profile Analysis to Classify News Audiences and Their Selection Biases in the U.S. and UK. International Journal of Communication, 14, 5375–5393.

Werleman, C. (2019). The Indian troll ARMY’s obsession with rape - TRT World. TRT World. https://www.trtworld.com/article/12727939?

Wiyanto. (2018). Menangkap Peluang Bisnis Kaos #2019 Ganti Presiden…. Industry.Co.Id. https://www.industry.co.id/read/30747/menangkap-peluang-bisnis-kaos-2019-ganti-presiden

Wu, J. (2025). Prestige Fetishism in the Academy: Comte’s Mirror, the Magic Mirror or an Illusion of Reality? British Journal of Sociology, 76(4), 932–936. https://doi.org/10.1111/1468-4446.13224

FANS POLITIK, BUKAN PEMILIH

Published

January 28, 2026

Details about the available publication format: preview

preview

ISBN-13 (15)

978-634-202-927-5

Physical Dimensions