DRAMATURGI KEPEMIMPINAN DAN PENCITRAAN DI UJUNG RASA MUAK: Menggali Harapan Baru dari Retaknya Kebangsaan
Keywords:
dramturgi, kepemimpinan, pemerintahSynopsis
Politik Indonesia hari ini semakin mirip sebuah panggung teater. Para aktor politik beradu peran, mengenakan kostum kesederhanaan, kerakyatan, bahkan religiusitas. Mereka tersenyum di depan kamera, berpidato penuh retorika, dan menampilkan diri sebagai penyelamat bangsa. Namun, di balik layar, berlangsung transaksi kekuasaan, intrik, dan kompromi yang jauh dari kepentingan rakyat. Publik pun semakin sering disuguhi drama, bukan substansi.
Buku ini mengajak pembaca membongkar dramaturgi politik Indonesia bagaimana pencitraan diproduksi, bagaimana rasa muak publik tumbuh, dan bagaimana polarisasi meretakkan persaudaraan kebangsaan. Dengan gaya naratif, analitis, dan kritis, buku ini menguraikan fenomena politik sebagai pertunjukan sekaligus menantang kita untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kekuasaan.
Lebih dari sekadar kritik, buku ini juga menghadirkan harapan. Rasa muak tidak harus berakhir pada apatisme; ia bisa diolah menjadi energi sosial yang mendorong lahirnya perlawanan moral, kepemimpinan yang berintegritas, serta rekonstruksi solidaritas kebangsaan. Dari retakan bangsa, selalu ada kemungkinan untuk membangun fondasi yang lebih kokoh asal ada keberanian untuk menolak ilusi dan menuntut substansi.
Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini ditujukan bagi pembaca umum yang kritis terhadap politik: mahasiswa, aktivis, akademisi, maupun masyarakat luas yang ingin memahami mengapa politik Indonesia terasa memuakkan sekaligus bagaimana rasa muak itu bisa menjadi jalan menuju perubahan.
Dramaturgi Kepemimpinan dan Pencitraan di Ujung Rasa Muak bukan sekadar analisis, melainkan undangan. Undangan untuk menyingkap panggung palsu yang melelahkan, sekaligus mengimajinasikan masa depan politik yang lebih jujur, adil, dan bermartabat.
Chapters
-
KATA PENGANTAR
-
DAFTAR ISI
-
BAB 1 PANGGUNG BANGSA YANG RETAK
-
BAB 2 DRAMATURGI KEKUASAAN
-
BAB 3 PENCITRAAN DI ERA DIGITAL
-
BAB 4 RASA MUAK SEBAGAI ENERGI SOSIAL
-
BAB 5 KERETAKAN KEBANGSAAN
-
BAB 6 MEMBONGKAR ILUSI, MENEMUKAN SUBSTANSI
-
BAB 7 HARAPAN BARU DARI RETAKNYA BANGSA
-
DAFTAR PUSTAKA
-
PROFIL PENULIS
Downloads
References
Anderson, B. (2008). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Verso.
Aspinall, E., & Mietzner, M. (2019). Indonesia: State and Society in Transition. Lynne Rienner.
Aziz, M. A. (2016). Oligarki dan Politik Indonesia. LP3ES.
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1991). The Social Construction of Reality. Penguin Books.
Budiman, A. (2020). Demokrasi dan Rasa Muak Publik. Jakarta: Gramedia.
Dahl, R. A. (1998). On Democracy. Yale University Press.
Effendy, O. U. (2018). Komunikasi Politik di Era Digital. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Eriyanto. (2001). Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.
Fukuyama, F. (2014). Political Order and Political Decay. Farrar, Straus and Giroux.
Giddens, A. (1990). The Consequences of Modernity. Stanford University Press.
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books.
Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press.
Heryanto, A. (2015). Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Huntington, S. P. (1991). The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. University of Oklahoma Press.
Irawan, F. (2018). Buzzer Politik dan Demokrasi Digital di Indonesia. Jakarta: Obor.
Kompas Research Team. (2019). Polarisasi Politik di Indonesia. Jakarta: Kompas.
Levitsky, S., & Ziblatt, D. (2018). How Democracies Die. Crown Publishing.
Liddle, R. W. (1999). Leadership and Culture in Indonesian Politics. Allen & Unwin.
Lipset, S. M. (1960). Political Man. Johns Hopkins University Press.
Mietzner, M. (2009). Military Politics, Islam, and the State in Indonesia. ISEAS Publishing.
Noelle-Neumann, E. (1993). The Spiral of Silence: Public Opinion – Our Social Skin. University of Chicago Press.
Norris, P. (2000). A Virtuous Circle: Political Communications in Postindustrial Societies. Cambridge University Press.
Nugroho, Y. (2017). Media Sosial dan Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Pariser, E. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Penguin Press.
Prasetyo, S. (2020). Apatisme Politik Generasi Muda. Yogyakarta: Kanisius.
Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
Rachman, B. (2019). Politik Identitas di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Rahardjo, M. (2018). Korupsi dan Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Obor.
Rizal, A. (2021). Muak: Kritik Publik terhadap Pencitraan Politik. Bandung: Mizan.
Rosidi, I. (2016). Retorika Politik dan Media. Bandung: Alfabeta.
Said, E. (1994). Representations of the Intellectual. Vintage.
Santoso, A. (2020). Dramaturgi Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Sen, K., & Hill, D. T. (2011). Media, Culture and Politics in Indonesia. Equinox Publishing.
Setiawan, D. (2022). Polarisasi dan Demokrasi Digital. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sztompka, P. (1993). The Sociology of Social Change. Wiley-Blackwell.
Tapscott, D. (2009). Grown Up Digital. McGraw-Hill.
Thompson, J. B. (2005). The Media and Modernity: A Social Theory of the Media. Stanford University Press.
Tilly, C. (2004). Social Movements, 1768–2004. Paradigm Publishers.
Wahid, M. (2017). Oligarki dan Runtuhnya Kepercayaan Publik. Surabaya: Airlangga Press.
Zakaria, F. (2003). The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad. W. W. Norton & Company.
Published
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.